Tips Sholat Qasar

Sholat

Sholat

Persoalan cara sholat selama musafir adalah perkara yang penting. Jangan sampai kita meninggalkan  sholat dengan alasan sedang dalam perjalanan atau bermusafir. Saya sadar berdasarkan hasil  pembicaraan dengan teman-teman, banyak yang tidak begitu mengerti mengenai masalah sholat qasar. Oleh  sebab itu saya mencoba membandingkan pendapat terutama dari mazhab Syafi’i dengan pendapat-pendapat  dari Syaikhul  Islam Ibn Taymiyah-Ibn Qayyim atau Lajnah Salafiyah ulama-ulama senior Kerajaan Arab Saudi.

Tujuannya bukan untuk mengkritik mana-mana pihak, atau menentukan mana yang kuat berdasarkan  dalil, tapi lebih kepada pembagian ilmu. Saya tidak akan mencantumkan dalil-dalilnya secara lengkap. Kalau anda ingin belajar lebih lanjut, silakan dicari rujukan-rujukannya sendiri. Insya Allah,  pendapat-pendapat ulama yang saya kemukakan di sini bukan pendapat yang menyesatkan.

Kasus 1: Sholat qasar tanpa jamak

Kebanyakan orang mengetahui sholat qasar hanya bisa dilakukan ketika sholat jamak. Jadi seperti satu paket, tidak ada qasar tanpa jamak. Tidak ada yang pernah memberitahukan mereka bahwa sebenarnya sholat qasar bisa berdiri sendiri tanpa terikat dengan sholat jamak. Ulama’ dari Al-Lajnah Al-Daa’imah Arab Saudi mengatakan :

Dibolehkan untuknya melakukan jamak tanpa qasar dan qasar tanpa jamak, dan qasar merupakan haknya, lebih afdal dari solat al-tamam (penuh, iaitu 4 rakaat)! ” (Al-Lajnah Al-Daa’imah , Fatno:584, 8/97).

Ini sangat memudahkan ketika kita dalam perjalanan jauh. Contohnya saya ketika saya kembali dari Kuala Lumpur ke Penang tempat tinggal saya. Saya harus menaiki bus dari KL sekitar jam 12.40pm, tanpa sempat melakukan sholat Dzuhur yang bermula sekitar jam 1.10pm. Padahal perjalanan dari KL ke Penang memakan waktu sekitar 5 jam. Jadi saya akan sampai di Penang sekitar jam 5.40pm. Pada saat itu waktu Dzuhur telah habis. Jadi saya mungkin ketinggalan sholat Dzuhur. Mau melaksanakan jamak taqdim tidak boleh lagi, karena sudah sampai ditujuan. Mungkin ada yang menjawab “Mudahlah. Sholat Dzuhur saja di  jalan”. Yap, itulah yang akan saya lakukan. Sayangnya bus cepat yang saya naiki biasanya hanya berhenti sebentar saja (kurang dari 10 menit) untuk mengijinkan penumpangnya pergi ke toilet.

Sholat qasar saja

Sholat qasar saja

Nah disinilah kita bisa memanfaatkan sholat Dzuhur yang diqasar. Waktu yang kurang dari 10 menit itu bisa digunakan untuk buang air kecil, mengambil wudhuk, dan sholat Dzhuhur yang di qasar. Beres urusan sholat. Saya dengan tenang bisa menikmati perjalanan pulang, tanpa harus khawatir ketinggalan sholat Dzuhur.

Kasus 2: Jarak perjalanan untuk melakukan qasar kurang dari dua marhalah (sekitar 89 km)

Kebiasaan di negara kita adalah boleh melakukan qasar apabila jarak perjalanan lebih dari dua marhalah atau sekitar 89 km. Pendapat ini benar menurut mazhab Syafi’i. Jadi kalau anda tinggal di Jakarta dan mau ke Bandung, maka anda boleh melakukan qasar. Tapi bagaimana kalau di bawah 89 km, misalnya anda tinggal di Bogor dan hendak pergi ke Jakarta yang berjarak sekitar 48 km. Bolehkah anda melakukan qasar? Kalau menurut mazhab Syafi’i tentu saja tidak boleh.

Tetapi ada pendapat alternatif yang dipelopori oleh Syaikhul Islam Ibn Taymiyah yang mengatakan sholat musafir tidak tergantung oleh jarak, jumlah hari atau niat perjalanan. Tapi ia hanya ditentukan oleh diri sendiri dan kebiasaan (uruf) masyarakat. Misalnya saja anda tinggal di Bogor dan hendak ke Jakarta mengunjungi sanak famili, anda boleh melakukan qasar karena perjalanan ini diluar adat kebiasaan anda. Akan tetapi kalau anda tinggal di Bogor dan bekerja di Jakarta, dan setiap hari berulang-alik Bogor-Jakarta, maka anda tidak dianggap musafir karena ini dianggap perjalanan yang telah menjadi kebiasaan anda. Batas kebiasaan ini relatif bagi setiap individu. Kalau terdapat keraguan untuk menetapkan perjalanan itu sebagai perjalanan biasa atau tidak, maka pilihan terbaik adalah tidak mengqasarkan sholatnya.

Kasus 3: Jarak perjalanan untuk melakukan qasar lebih dari dua marhalah (sekitar 89 km)

Saya berikan satu kasus yang jarang atau hampir tidak mungkin terjadi. Misalnya saja saya tinggal di Bandung dan bekerja di Jakarta yang berjarak sekitar 128 km. Biasanya saya akan menempuh perjalan  tersebut dengan naik bus sekitar 2 jam. Bolehkah saya melakukan qasar? Boleh saja kalau menurut mazhab Syafi’i, karena sudah lebih dari 89 km.

Kalau menurut pendapat diluar mazhab Syafi’i seperti dalam kasus nomor 2, maka saya tidak boleh melakukan qasar karena perjalanan Bandung ke Jakarta. Bagaimana ini? Jadi merepotkan kalau menggunakan pendapat ini. Jangan khawatir dulu contoh ini hampir mustahil terjadi, kecuali ada kereta api cepat dari dari Bandung ke Jakarta yang mampu menempuh 300 km dalam waktu satu jam. Dengan kereta api cepat, jarak Bandung ke Jakarta bisa ditempuh selama 42 menit. Untuk waktu secepat ini, jangankan saya mungkin ribuan orang lainnya juga akan bekerja di Jakarta walaupun tinggal di Bandung. Ok anda sekarang sudah jelas dengan kasus 3. Bagaimana kalau anda sekolah di Jepang dan harus naik “bullet train” selama satu jam (kira-kira 300 km jaraknya) setiap hari ke university tempat anda  belajar. Apa jawabannya? Apakah anda bisa melakukan qasar atau tidak. Kalau menurut mazhab Syafi’i, sudah jelas anda boleh melakukan qasar. Tapi kalau menurut kasus nomor 2, anda tidak boleh melakukan qasar karena perjalanan anda ke sekolah menjadi suatu kebiasaan. Jawaban yang lebih tepat akan dibahas di kasus nomor 4.

Kasus 4: Lama perjalanan yang membolehkan qasar

Menurut mazhab Syafi’i dan Maliki, qasar hanya boleh dilakukan selama 3 hari saja tidak termasuk perjalanan pulang dan pergi. Dalam kasus mahasiswa Indonesia di Jepang, dia boleh meng-qasar selama perjalanannya ke university. Selain itu, mahasiswa itu harus sholat dengan sempurna rakaatnya.

Sebaliknya Ada ulama yang berpendapat boleh meng-qasar sholat lebih dari 3 hari dengan syarat tidak  berniat untuk menetap, akan tetapi hanya untuk suatu urusan dan kembali ke rumah kembali apabila telah  selesai. Bagaimana kalau urusannya bertahun-tahun? Tidak ada masalah, tetap boleh menq-qasar sholat  seperti yang dikatakan oleh Syaikh Sayyid Sabiq dalam Fiqh Sunnah jilid 2 halaman 217. Dalil yang digunakan adalah dari hadis Anas bin Malik ra :

Kami telah keluar (bermusafir) bersama Rasulullah saw dari Madinah ke Mekkah. Maka Baginda saw bersolat dengan 2 rakaat 2 rakaat sehinggalah kami pulang” (HR Imam Bukhari 1081 , Imam Muslim : 693)

Dalil di atas jelas menunjukkan bahawa Rasulullah saw mengerjakan solat secara qasar selama berada di  Mekkah sehinggalah Baginda saw pulang semula ke Madinah. Malah dalam riwayat yang lain dinyatakan  bahawa tempo masa Rasulullah saw berada di Mekkah atau dalam perjalanan ke Mekkah sebagaimana berikut:

1. 19 hari (Riwayat dan lafaz dari Imam Bukhari , dari Ibn Abbas : 1080)
2. 15 hari (HR Abu Daud : 1230 , 1231)
3. 18 hari (HR Abu Daud : 1229)
4. Rasulullah saw berada di Tabuk dan mengqasarkan solat selama 20 hari (HR Abu Daud : 1235)

Banyak para sahabat dan tabi’in yg melakukannya, contohnya: Ibn Umar ketika menetap di Azerbaijan selama 6  bulan; Anas bin Malik selama bermukim di Syria selama 2 tahun terus-menerus menqasrkan solatnya (Fiqh  Sunnah) Ini juga fiqih pilihan alMuhaddith Albani (Fatawa alMedinah)

Dengan demikian kita dengan mudah menjawab pertanyaan dalam kasus 3 yaitu mahasiswa tersebut dalam urusan kuliah dan akan kembali ke negaranya setelah urusannya selesai. Kesimpulannya mahasiswa tersebut boleh melakukan qasar selama dia tinggal di Jepang.

Contoh-contoh lain yang boleh mengqasarkan sholat adalah (musafir yang akan kembali lagi):

1. Pergi berwisata ke Bali selama 2 minggu
2. Jamaah Tabligh yang keluar 40 hari
3. Menghadiri kursus selama dua bulan di kota lain
4. Bekerja di negara asing dengan visa 2 tahun
5. Pelajar yang sekolah di kota lain atau luar negeri selama 4 tahun

Contoh yang tidak boleh mengqasarkan sholat walaupun dalam status musafir pada awalnya (musafir yang menetap):

1. Nabi s.a.w yang pindah dari Mekkah ke Madinah dan menjadikan Madinah sebagai tempat tinggal tetap.
2. Orang Indonesia yang pindah ke Australia karena mendapatkan Permanent Resident
3. Orang yang menikah dan berniat tinggal di rumah pasangannya di lain kota.

Kasus 5: Bermusafir ke rumah orang tua atau mertua

Menurut pendapat madzhab spt Syafi’iy dan Hanafi, anda dikehendaki solat secara tamam (sempurna) bila  berada di kampung isteri anda kerana kampung isteri sudah menjadi watan asli buat anda. Maksudnya  anda hilang status musafir bila pulang ke kampung isteri anda. Hal yang sama juga berlaku untuk bila pulang ke rumah orang tua sendiri. Jadi kalau saya pulang ke Aceh dari Penang untuk mengunjungi orang-tua saya, maka saya hanya boleh meng-qasar sholat selama 3 hari. Pada hari ke empat saya harus sholat dengan rakaat lengkap kembali (tamam).

Watan asli dan hakiki

Watan asli dan hakiki

Sebaliknya ada juga ulama yang berpendapat bahwa seseorang boleh melakukan qasar walaupun telah sampai di kampung tempat kelahirannya atau tempat orang-tuanya membesar, atau di tempat mertua.

Kasus 6: Masalah niat sholat qasar

Menurut pengamatan saya, ramai yang enggan melakukan sholat jamak dan qasar karena alasan tidak tahu  cara melafazkan niat seperti yang diajarkan di sekolah agama dulunya. Menurut mereka kalau niatnya tidak betul lafaznya maka sia-sialah sholat mereka. Ini sangat menbingungkan. Hanya karena alasan tidak tahu niat yang akan dilafazkan yang tidak di syariatkan, mereka sanggup meninggalkan sunnah Nabi s.a.w. Sebenarnya niat cukup dalam hati saja, tidak perlu mengikuti susunan kata tertentu yang menyusahkan. Mudah saja bukan?

One Response

  1. terima kasih tipsnya sangat bermanfaat

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: