Umur Aishah r.a. Ketika Menikah

Pada awalnya saya tidak begitu tertarik untuk membahas umur Aisha r.a. ketika menikah dengan Rasulullah s.a.w. Bukan isu yang terlalu penting, karena tidak ada hubungan dengan keimanan kita. Tapi lain ceritanya ketika orang-orang mulai terpengaruh dengan propaganda orientalis dan jebakan-jebakan sejarah yang dimanipulasi pihak Syi’ah. Mereka mengatakan hadis ini bertentangan dengan akal, sehingga mereka mentertawakan dan mengejek Islam.

Sehingga ketika ada seorang kyiai yang menikahi seorang gadis kecil, mereka menuduh kyiai ini seorang pedhopolia. Dari mana contohnya ya kata mereka? Dari mana lagi kalau bukan dari Rasulullah s.a.w. Begitulah kira-kira jalan pikiran mereka, entah itu dinyatakan secara langsung, bisik-bisik sesama kawan yang sepemikiran ataupun hanya terbetik dalam hati saja. Atau ada juga yang beranggapan, bahwa menikahi anak di bawah umur hanya sunah yang dikhususkan kepada Rasulullah s.a.w. saja. Jadi orang lain tidak perlu mengikutinya. Sama juga halnya dengan kasus poligami, itu hanya sunah khusus bagi Rasulullah s.a.w. Jadi orang lain tidak layak mengikutinya, karena level mereka yang sangat jauh di bawah Nabi s.a.w.

Ulama India-Pakistan

Hazrat Allama Mohammad Habibur Rahman Kandhalwi (almarhum) seorang ulama unggul di India-Pakistan telah melakukan penyelidikan mengenai umur Aisha ketika menikahi Rasulullulah s.a.w. . Beliau berpandukan ilmu Rijal (biografi perawi), pernyataan para sahabat r.a., ahli hadis dan tafsir, dan pernyataan mutlak dari Ummul Mu’minin r.a. (Aisha r.a.) sendiri, untuk menentukan umur Aisha r.a. yang sebenarnya ketika menikahi Rasulullah s.a.w. Beliau tidak menyalahkan ‘Bukhari karena kesilapan merekam umur Aisha r.a. Beliau tidak mengatakan bahwa riwayat dari Hisham bin Urwah di dalam ‘Bukhari dan ‘Muslim sebagai hadis Maudhu (hadis yang dibuat-buat) dan juga tidak mengatakan bahwa perawi tersebut adalah pendusta, tetapi berpendapat bahwa Hisham telah melakukan kesilapan di dalam riwayat tersebut dengan menyebut ‘19′ menjadi ‘9′ secara tidak sengaja. Ini tidak seperti perkataan orang-orang yang tidak suka Islam yang mengatakan Bukhari telah ditipu oleh perawinya. Menurut beliau Imam Bukhari telah berusaha sekuat tenaga untuk menghapuskan pembohongan dengan gigih. Usaha ikhlasnya tidak dapat ditandingi oleh siapapun hingga hari ini. Bagaimanapun Bukhari seorang manusia biasa yang tidak terlepas dari segala kesalahan. Kita tidak bisa menuduh Imam Bukhari seorang kriminal hanya karena kesilapan yang tidak dilakukannya dengan sengaja.

Saya tidak tahu bagaimana tanggapan ulama-ulama hadis Arab terhadap hasil penyelidikan Kandhalwi ini. Sebagai orang awam saya hanya mengikuti perbincangan-perbincangan di mailing list mengenai umur Aisha r.a. ini. Memang kelihatan bahwa para lulusan dari Timur Tengah, mahasiswa-mahasiswa dari Timur Tengah menganggap remeh dan setengah sinis terhadap hasil penyelidikan ulama India ini. Tapi sejauh yang saya ikuti, mereka masih tidak mampu mengeluarkan hujah-hujah balasan untuk meruntuhkan hasil penyelidikan ulama India tersebut. Mungkin level yang berdiskusi itu masih jauh lebih rendah dari ulama India-Pakistan itu. Sebagai orang awam yang bebas dari bias aliran Timur Tengah dan India-Pakistan, setelah membaca tulisan ulama India ini, kelihatan ada benarnya hujah-hujah Allama Kandhalwi tersebut. Hingga nanti ada balasan meyakinkan dari aliran Timur Tengah yang saya temui, saya masih bersama ulama India dalam hal ini.

Sebenarnya tulisan ulama India ini sangat panjang dan lengkap dengan dalil-dalilnya. Saya tidak mampu mengutipnya semua, jadi saya hanya akan menyampaikan sedikit ringkasan dan diagram-diagram untuk memudahkan memahami hujah ulama India ini. Bagi yang mau membaca lebih lanjut, saya sediakan link-link di akhir tulisan ini nantinya. Keputusan terserah di tangan anda. Anda bisa mencari referensi lebih lanjut untuk menolak atau mendukung hasil kajian tersebut.

Pertanyaan-Pertanyaan Yang Muncul

Berikut ini adalah beberapa pertanyaan yang muncul dari diskusi yang saya ikuti, dan jawaban yang saya temukan dari link-link tersebut. Silakan dibaca sendiri sumber referensi awal, mana tahu saya tidak tepat dalam meringkas hasil kajian itu.

1. Bagi yang menolak hasil kajian tersebut beralasan bahwa Imam Bukhari tidak mungkin silap dalam menilai perawi-perawinya.

Dalam menjawab pertanyaan tersebut, penulis menyatakan bahwa Abdur Rahman bin al-Mahdi yang merupakan guru Imam Bukhari dan Imam Muslim berkata muhaddisin menilai sanad dengan ketat ketika menilai hadis yang berkenaan halal dan haram dan juga mengenai perintah dan larangan. Selain dari hal-hal tersebut,seperti fazail (keutamaan) sirah, dsb, ulama hadis tidak terlalu ketat dengan pribadi perawi dan mengabaikan kesalahan dan kelemahan mereka. Mungkin karena sebab itulah mengapa ulama hadis tidak merasakan perlu untuk membincangkan dengan teliti segala riwayat yang berkenaan dengan umur sebenarnya dari Saiditana Aishah ketika menikah dengan Rasulullah s.a.w.

2. Apakah riwayat mengenai umur Aishah r.a, bisa dikategorikan dalam sunnah?

Jika sunah didefinisikan sebagai perkataan-perkataan Rasulullah s.a.w yang lebih dikenali sebagai hadist, perbuatan-perbuatan Rasulullah s.a.w sendiri, dan perbuatan-perbuatan lainnya yang mendapat persetujuan dari beliau, maka riwayat umur Aishah r.a. ketika dia menikah, tidak tergolong ke dalam sunnah Nabi s.a.w. Setelah meneliti bukti-bukti dari kitab-kitab Sahih Bukhari, Sahih Muslim, Sunan Abu Daud, Jami Tarmizi, Sunan Ibnu Majah, Sunan Darimi dan Musnad Humaidi, mereka menemukan bahwa sebagian perawi mengatakan riwayat tersebut sebagai perkataan Aishah r.a., sedangkan sebagian lainnya mengatakan sebagai perkataan Urwah r.a. yang merupakan seorang tabiin yaitu anak Zubair bin Awwam r.a. (seorang sahabat) dan Asma binti Abu Bakar r.a. (kakak Aishah r.a.). Yang pasti, riwayat tersebut bukan perkataan Nabi Muhammad s.a.w sendiri. Peneliti tersebut mengatakan riwayat umur Aishah ini hanyalah riwayat sejarah oleh Urwah yang apabila ada perbedaan pendapat apakah suatu riwayat itu bersambung ataupun terputus, maka para ulama hadis pada umumnya akan mengatakan riwayat itu terputus.

3. Bagaimana dengan fakta-fakta yang menunjukkan bahwa riwayat umur Aisha r.a. adalah 9 tahun ketika mulai tinggal bersama Rasulullah s.a.w.  juga disebutkan oleh Tabari, Bukhari, Muslim atau Abu Dawud?

Yang menjadi masalah adalah tidak satupun dari riwayat-riwayat itu yang bebas dari periwaatan Hisham ibn Urwah, atau dilaporkan oleh orang Iraq. Jadi ketika riwayat mengenai umur Aishah r.a. ini tidak kuat dan bertentangan dengan riwayat-riwayat mengenai Aishah r.a. lainnya, maka tidak ada salahnya menolak riwayat umur Aishah r.a. ini.

4. Sebenarnya ada berapa riwayat mengenai umur Aishah r.a. ini?

Kalau tidak salah ada 6 jalur periwayatan. Jalur periwayat yang paling kuat adalah riwayat-riwayat yang dilaporkan melalui Urwah. Contohnya adalah 4 riwayat yang dapat ditemukan dalam Sahih Bukhari, dua diantaranya diriwayatkan oleh Aishah r.a., satu oleh Abu Hisham dan satu oleh Urwah. Persamaan kesemua riwayat-riwayat itu adalah Urwah. Sedangkan 5 riwayat lainnya memasukkan orang-orang yang dikritik kuat ataupun ringan oleh ulama-ulama dan pengkompilasi kehidupan periwayat-periwayat hadis.

5. Terus apa yang menjadi masalah sebenarnya, kalau riwayat-riwayat yang melalui Urwah dianggap sudah kuat?

Yang menjadi masalah adalah Hisham ibn Urwah (anaknya Urwah) yang meriwayatkan dari bapaknya ada kemungkinan salah menyebut 16 tahun menjadi 6 tahun dan 19 tahun menjadi 9 tahun. Ini ada kaitannya dengan kehidupannya setelah berpindah ke Kufah Iraq setelah hidup 71 tahun di Madinah.

Kalaupun riwayat tersebut tidak melalui Hisham ibn Urwah, maka riwayat-riwayat lainnya melalui rantaian orang-orang Iraq yang meragukan. Kenapa meragukan? Karena riwayat umur Aishah r.a. ini baru muncul setelah kepindahan Hisham ke Iraq. Padahalnya sebelumnya ketika tinggal di Madinah selama 71 tahun, tidak ada satupun riwayat Aishah r.a. yang diriwayatkan oleh orang-orang Madinah, Mekah, Syam atau Mesir.

Diagram Umur Aishah
Diagram Umur Aishah

Ini alasan-alasan ulama India-Pakistan tersebut:

  1. Bertentangan Dengan Fitrah Manusia
  2. Bertentangan Dengan Akal Yang Waras
  3. Tiada Contoh Ditemui Di Negeri Arab Atau Di Negeri-Negeri Panas
  4. Riwayat Ini Bukan Hadis Rasulullah S.A.W.
  5. Hanya Perawi Iraq Yang Menukilkan Riwayat Ini
  6. Aishah R.A Masih Ingat Dengan Jelas Peristiwa Hijrah Abu Bakar R.A. ke Habshah
  7. Aishah R.A. Mengelap Luka Dan Hingus Usamah Bin Zaid R.A. Yang Dikatakan Sebaya Dengannya
  8. Ummul Mu’minin R.A. Turut Serta Di Dalam Peperangan Badar
  9. Aishah R.A. Menyertai Perang Uhud Sedangkan Kanak-Kanak Lelaki Berumur Empat Belas Tahun Tidak Dibenarkan Menyertai Perang
  10. Aishah R.A. Lebih Muda 10 Tahun Dari Kakaknya Asma, Dan Semasa Peristiwa Hijrah Asma R.A. Berumur 27 Atau 28 Tahun
  11. Ahli Sejarah At-Tabari Mengatakan Aishah R.A. Lahir Di Zaman Jahilliyah (Sebelum Kerasulan)
  12. Aishah R.A. Adalah Antara Orang-Orang Yang Terawal Memeluk Islam
  13. Abu Bakar R.A. Merencanakan Mennikahkan Aishah R.A. Sebelum Berhijrah Ke Habshah
  14. Aishah R.A. Disebut Sebagai ‘Gadis’ Dan Bukan ‘Kanak-Kanak’ Pada Waktu Direncanakan Untuk Bernikah Dengan Rasulullah
  15. Rasullulah Tidak Tinggal Bersama Aishah R.A. Kerana Masalah Mendapatkan Mahar, Bukan Kerana Umur Aishah Yang Terlalu Muda
  16. Hadis Yang Mensyaratkan Mendapat Persetujuan Seorang Gadis Sebelum Dikahwinkan Memerlukan Gadis Tersebut Telah Cukup Umur
  17. Kebolehan Luarbiasa Aishah R.A Mengingati Syair Yang Biasa Di Sebut Di Zaman Jahiliyah Membuktikan Beliau R.A. Lahir Di Zaman Jahiliyah
  18. Kemahiran Dalam Sastera, Ilmu Salasilah Dan Sejarah Sebelum Islam
  19. Keinginan Mendapatkan Anak Dan Naluri Keibuan Tidak Mungkin Timbul Dari Kanak-Kanak Bawah Umur
  20. Aishah R.A. Sebagai Ibu Angkat Kepada Bashar R.A. Yang Berumur Tujuh Tahun Selepas Perang Uhud
  21. Wujudkah Perkahwinan Gadis Bawah Umur Di Tanah Arab Dan Dalam Masyarakat Bertamadun?

Ini jawaban yang saya dapatkan dari diskusi mengenai umur Aishah r.a.

  1. Hadis umur Aishah itu riwayat al-Bukhari dan lainnya adalah sahih dari segi kajian hadis.
  2. Sedangkan mereka yg mendhaifkan hadis ini bersumberkan riwayat-riwayat sirah yg tidak pasti sahih (ini diakui oleh penulis-penulis kitab sirah sendiri).
  3. Bahkan sebenarnya jika diteliti hadis ini ada juga diriwayatkan dari jalan selain jalan Hisyam, yaitu terdapat 9 jalan yg berbeda yang sahih dan tidak melalui Hisyam.
  4. Dan sekiranya hadis umur Aishah dalam Sahih Bukhari itu tidak sahih, maka sudah PASTI akan ada imam-imam huffaz hadis salaf sezaman al-Bukhari atau lebih awal dari al-Bukhari akan membantah dan meng-koreksi al-Bukhari, akan tetapi tiada satupun imam hadis salaf yg membantah dan ini merupakan tacit approval yg menunjukkan imam-imam hadis salaf bersetuju dgn al-Bukhari, bahkan hadis umur Aishah ini juga ada dalam Sahih Muslim (tetapi bukan dari jalan Hisyam).
  5. Pihak Multaqa Ahli Hadis (www.ahlalhdeeth.com) telah pun menjawab hal ini dan menerbitkan sebuah buku yg diberi gratis dalam bahasa inggeris (jawaban kepada mereka yang mendhaifkan hadis ini).

Hmmm…saya harus baca buku dari Multaqa Ahli Hadis ini untuk mengetahui tanggapan mereka.

Sumber referensi:

http://www.darulkautsar.com/article.php?ArticleID=562


http://www.understanding-islam.com/ri/mi-004.htm

2 Responses

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: