Tauhid Tiga

Pembagian tauhid kepada tiga bagian itu bukan bid’ah karena isinya itu semua ada dalam Al’Quran dan Hadist. Pembagian itu ditujukan untuk memudahkan orang mempelajari dan memahami tauhid dalam Islam. Ini sama saja dengan pembagian-pembagian yang ada di dalam ilmu tafsir, ilmu hadis, ilmu fiqh, dll. Kalau mengikuti manhaj salaf, memang tauhid itu bisa dibagi kedalam tiga bagian:

1. Tauhid Rububiah atau Tauhid Khaliqiah

Allah berfirman:

“Jika ditanya mereka siapakah yang mencipta langit dan bumi, dan yang menundukkan bulan dan matahari, niscaya mereka akan mengatakan Allah” (Surah Al-Ankabut 29:61)

Apa maksud ayat di atas? Maksudnya orang-orang Quraisy yang kuffar dan syirik kepada Allah masih mengakui Allah pencipta mereka. Ternyata sekedar mengakui Allah SWT sebagai pencipta, penguasa dan pemberi rezki, tidak cukup untuk mengatakan orang itu telah beriman. Jikalau dengan hanya mengakui kewujudan Allah saja sudah dianggap beriman, maka kebanyakan manusia dimuka bumi ini dianggap beriman. Tidak percaya? Orang Kristen bisa saja dianggap beriman karena mereka percaya Allah (Tuhan Bapa menurut mereka) itu ada dan telah menciptakan mereka.

Pertanyannya bid’ahkah definisi dan pengertian tauhid Rububiyah di atas? Ada yang berani menyatakan pengertian di atas itu bid’ah?

2. Tauhid Ubudiah/Ilahiyah/Uluhiyah atau Tauhid Ibadah

Kalau hanya mengakui bahwa Allah telah menciptakan manusia tidak cukup membuat manusia beriman, terus apa lagi yang diperlukan supaya disebut beriman? Jawabannya adalah:

“Hanya kepada Engkau kami meyembah dan hanya kepada Engkau kami meminta pertolongan” (Surah Al-Fatihah ayat 5)

Kita tidak menyembah dan meminta tolong kepada Tuhan selain Allah SWT. Kita meyakini bahwa Alah satu-satunya yang berhak disembah, diibadahi, dimintai do’a dan dimintai pertolongan. Ini berarti kita tidak boleh beribadah kepada pohon, matahari, meminta tolong orang mati, berhala, jin, dsb.

Kita dianggap telah melakukan kesyirikan apabila melanggar hal-hal di atas. Syirik adalah menjadikan sesuatu selain Allah sebagai sekutu atau saingan yang sama tingkatnya dengan Allah dengan:

a) mencintai sekutu Allah seperti mencintai Allah sendiri
b) takut kepada sekutu Allah seperti rasa takutnya kepada Allah
c) memohon perlindungan kepada sekutu Allah
d) berdoa kepada sekutu Allah
e) takut akan siksa sekutu Allah
f) berharap dan bertawakal kepada sekutu Allah
g) mentaati sekutu Allah dalam melakukan maksiat
h) mengikuti sekutu Allah melakukan hal-hal yang tidak diredai oleh Allah

Inilah yang membedakan kita dengan Abu Jahal. Abu Jahal percaya kepada Allah, tetapi tetap berperang melawan Nabi Muhammad SAW. Karena tauhid inilah tentara-tentara Quraisy, tentara-tentara Kristen, tentara-tentara Majusi Parsi, terpaksa berperang dengan insan yang bernama Muhammad. Bukan karena mereka menolak kepercayaan kepada Allah, tetapi karena seruan untuk hanya mengabdi, beribadah kepada Allah-lah yang telah meruntuhkan segala kebesaran, keagungan dan penyamaan selain daripada Allah SWT.

Setelah mengerti apa pengertian Tauhid Uluhiyah, apakah masih ada yang mengatakan bahwa tauhid Uluhiyah adalah bid’ah? Saya rasa tidak ada yang berani mengatakan hal tersebut lagi, karena sejak dari kecil kita sudah tahu bahwa perbuatan menyekutukan Allah bisa membawa kepada syirik.

3. Tauhid Asmaa’was Sifaat atau tauhid menyucikan Allah

Tauhid ini bermaksud mengenali Allah SWT melalui Nama-Nama-Nya yang indah dan Sifat-Sifat-Nya yang Maha Tinggi lagi Maha Sempurna. Tidak ada jalan lain untuk sampai kepada pengetahuan ini melainkan melalui jalan wahyu yaitu Al’Quran dan hadist Rasulullah SAW. Ini adalah salah satu disiplin ilmu yang sangat penting. Salah-paham serta kejahilan dalam tauhid al-Asma’ was-Sifaat telah menyebabkan umat Islam terpecah kepada beberapa mazhab aqidah yang saling sesat-menyesatkan hingga kafir-mengkafirkan satu sama lain.

Tauhid ini sebenarnya dapat membantu kita untuk sampai kepada pengetahuan (makrifat) tetang Allah SWT. Selama ini kita hanya diajar dengan metode “Sifat 20” untuk mengenali Allah SWT. Metode ini sebenarnya tidak mendekatkan kita kepada Allah, malah menjauhinya karena metode ini bercampur aduk dengan ilmu kalam yang belandaskan pemahaman Yunani.

Ilmu kalam adalah ilmu untuk mengenal Tuhan dan penciptaan alam berdasarkan teori akal. Ilmu ini ditolak oleh generasi as-Salafussoleh karena tiruan dari teori-teori Plato, Socrates, Pythogoras, dll. Bagi generasi as-Salafussoleh, Allah hanya bisa dikenali sebagaimana Dia memperkenalkan diri-Nya di dalam al-Quran dan al-Sunnah yang sahih.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: