Akhlak di Jalan

Mobil (Kereta) di Penang

Mobil (Kereta) di Penang

Entah mengapa sampai sekarang ini aku terlalu ketat mengikuti aturan mengemudi kenderaan terutama mobil (kereta, kata orang Malaysia). Masih saja saya “gondok” dengan gaya mengemudi orang Malaysia yang sekenanya saja. Terkadang sampai menyumpah-nyumpah sendiri…Astaghfirullah. Tapi menurut Teuku Akmal yang cakep itu, cara orang KL (Kuala Lumpur) bawa kenderaan masih jauh lebih beradab daripada gaya orang Jakarta. Gawat juga nih, kalau aku bawa mobil di Jakarta, bisa bertumpuk dosanya karena asyik menyumpah orang saja. Hal ini membuat aku berpikir, apa mungkin ini karena aku pernah mengikuti ujian mengemudi di Australia yang ketat? Ditambah lagi dengan pengalaman mengemudi disana, sehingga meninggalkan kesan yang dalam?

Tram di Melbourne

Tram di Melbourne

Selama aku kuliah master (S2) di Melbourne, cuma sekali aku bawa mobil pada saat acara piknik mahasiswa Indonesia di sana. Selebihnya kebanyakan naik Tram dan Train, karena lebih nyaman dan murah menurutku. Lagi pula aku agak sedikit takut bawa mobil di sana, karena peraturan lalu-lintasnya yang sedikit aneh. Keanehannya karena kita harus berbagi jalan dengan Tram yang memiliki landasan kereta di tengah jalan.

Walaupun aku berusaha tidak bawa mobil selama di OZ (Australia), takdir menentukan lain. Aku pindah ke Adelaide ketika sedang mengerjakan thesis di semester terakhir. Aku dapat kerja di sana. Aku bersyukur bukan main, karena terus terang aku harus bayar sendiri biaya kuliah untuk semester terakhir, karena krisis ekonomi yang melanda Indonesia waktu itu. Uang kiriman ortu-ku tidak cukup lagi untuk menanggung biaya kuliah dan hidup semester terakhir. Untuk biaya hidupku sendiri, aku harus bekerja sebagai pencuci mobil di pagi hari yang sangat dingin. Lumayan dapat 400 dollar sebulan

Setelah mendapatkan sebuah apartment sederhana di daerah Blair Athol salah satu “suburb” nya Adelaide, target selanjutnya adalah membeli mobil. Maunya sih mobil baru, apa daya duit lagi kempes. Jadinya pilihan jatuh pada mobil Datsun putih dua pintu keluaran tahun ’78 yang. Biar body nya tidak mulus lagi, yang penting mesinnya masih ok.

Tahap selanjutnya adalah mendapatkan SIM. Ini yang aku buat “keder” setelah mendengar cerita kegagalan teman-teman ketika ikut ujian SIM. Ujiannya ada dua: ujian tertulis dan ujian praktek. Ujian yang paling “killer” adalah ujian tertulis. Kalau nggak salah ada sekitar 25 pertanyaan yang meliputi peraturan-peraturan mengemudi di jalan. Jawaban yang salah tidak lebih dari 5. Kalau lebih, maka ujian tertulisnya gagal. Gara-gara ujian tulis itu, aku harus belajar mati-matian selama dua minggu. Persis ketika menghadapi ujian semesteran di uni. dulunya. Memang terbukti ujian tertulis ini sulit. Aku saja nyaris tidak lulus, karena jawaban yang salah ada 4. Lega deh. Tahap selanjutnya adalah ujian praktikal.

Ada dua cara melakukan ujian praktikal: ujian langsung dan “log book”. Kalau ujian langsung, si penguji duduk disamping kita dan menilai keahlian kita dalam mengemudi. Kadang-kadang ada unsur subjektif juga, terutama kalau si pengujinya orang “bule” dan yang diuji bukan orang kulit putih. Kalau tidak praktek dulu di rumah, dijamin ujian langsung ini nggak bakalan lulus. Bahkan harus mengulang beberapa kali, kalau belum kapok juga. Nah untuk menghindari situasi tersebut, aku memutuskan ambil cara “log book” saja. Dengan cara ini, kita harus ikut kursus praktek selama lima hari. Setiap harinya sekitar 1.5 jam. Memang bayarnya jauh lebih mahal daripada ujian secara langsung tersebut. Tidak apalah, lagi pula aku masih belum terlalu PD bawa kenderaan di jalan-jalan Adelaide.

Dengan cara “log book” ini pun aku masih pilih-pilih instruktur. Aku usahakan yang orang Asia, supaya memudahkan untuk komunikasi. Setelah tanya kiri kanan, dapatlah seorang instruktur yang berbangsa Vietnam. Betapa leganya aku, karena mobil yang dipakai untuk kursus mengemudi ini lumayan bagus. Kalau nggak salah, sedan Hyundai berwarna marah dengan “gear” otomatik. Akhirnya jadilah acara kursus mengemudi ini sebagai jalan-jalan keliling Adelaide City dan “suburbs”.

Salah satu kemahiran yang paling sulit adalah parkir paralel. Aku harus berulang kali latihan melakukan parkir paralel di “city”. Wah deg-degan juga, takut nyerempet mobil orang. Paralel parking bukan satu-satunya yang membuat jantung aku berdegup kencang. Ada ujian yang lain yang menjadi momok kebanyakan orang Indonesia yaitu bagaimana caranya mengemudi di “roundabout”. Peraturanya adalah, yang sebelah kanan selalu menjadi prioritas. Kalau “roundabout” nya di tempat sepi sih nggak ada masalah. Tapi kalau diuji di “roundabout” yang memiliki lima simpang jalan, memang betul-betul buat grogi. Coba bayangkan Simpang Lima tanpa lampu lalu lintas di Banda Aceh. Kalau kita nekat maju padahal masih ada mobil sebelah kanan yang menghampiri kita, dijamin kita akan gagal di ujian itu. Kalau kita nggak berani maju-maju, maka akan menghambat mobil-mobil di belakang kita. Hari kelima yaitu hari terakhir adalah membawa mobil ke daerah berbukit-bukit (Adelaide Hill) di sekitar Adelaide. Lumayan… menghilangkan “stress” setelah empat hari sebelumnya mengemudi mobil di daerah perkotaan dan perumahan.

Berdasarkan pengamatanku terhadap cara mengemudi orang-orang di Adelaide, mereka pada umumnya mematuhi apa yang telah mereka pelajari selama ujian teori dan praktek. Jadinya lalu lintas menjadi sangat teratur. Masing-masing saling menghormati satu sama lain. Dalam kondisi beginilah aku mengemudi selama 4 tahun. Jadi walaupun aku sudah pindah ke Malaysia, aku masih melakukan gaya mengemudi di Adelaide. Bukannya merasa sok pintar, tapi aku merasakan gaya mengemudi yang aku praktekkan bertahun-tahun sangat bersesuaian dengan ajaran Islam karena tidak menyusahkan orang lain. Tapi susah juga ya, kalau kita lain sendiri, sedangkan yang lain tidak pedulian. Bayangkan saja, kalau kita sedang ngantri dengan teratur di depan lampu lintas, tiba-tiba ada mobil lain yang nyelonong seenaknya saja. Tentu gondoknya bukan main.

Aku masih berusaha dengan kebiasaan mengemudi ini selama enam tahun di Malaysia. Lumayan lama juga bertahannya. Ada kawanku yang orang Arab-Amerika, pada awal kepindahannya ke Malaysia, dia cukup terkejut dan grogi dengan gaya mengemudi orang Malaysia. Tapi tak lama kemudian dia mengetahui gaya mengemudi orang Malaysia. Dia tidak segan-segan mengemudi secara “tail-gating” di highway kalau mau meminta jalan. Alasannya, orang lain pun berbuat yang sama terhadap dia dan itu dianggap kebiasaan mengemudi di Malaysia. Aku cukup terkejut juga, karena aku tahu dia seorang yang alim dalam bidang agama. Apakah aku harus mengikuti jejak dia juga ya?

Baca link berikut ini. Ternyata orang Malaysia sendiri kesal dengan kebiasaan “tail-gating” ini.

http://ymlichan.blogspot.com/2006/01/malaysian-drivers-mentality-my.html

http://kentheblog.blogspot.com/2007/08/tailgating-fun.html

TAILGATING: FUN?

Many of the Malaysian drivers here tailgate almost everyday on highways, streets, and even on residential roads. Reasons? They think its fun! Rushing for anything? NO!! Then still, why do they drive like that?

Everyday, when I am on the roads, I always witness tailgaters along LDP and many major highways. Tailgate simply means driving one own’s car to a minimal distance to the car in front at a speed of 100+ km/h. This will definitely scare the shit out of the driver in front. What to do? Either you are slow and hogging up the fast lane, then you will need to move to the middle lane safely and slowly – dont panic and make sure you look at the side mirrors first and signal. I noticed many dont even bother to look and signal and just change lane. This mostly is due to the frustration and panic of the driver caused by the tailgater behind.
Sometimes, eventhough the car in front is fast, the tailgater will always try to speed up faster and will usually flash or horn. What I noticed is some dont bother and drive on at his/her speed, some do stupid stunts such as braking abruptly, or braking slowly to slow down the tailgater.

Everyday I read in newspapers about road accidents. There is so much about road accidents that I dont usually care about it anymore. Why? Most of the accidents are caused by stupid and crazy stunt driving, negligent drivers, and of coz tailgaters. When I witness such accidents occur, I dont know why the public would even want to assist/help them when the accidents is caused by themselves. I would treat them like a “lesson learnt but too late to avoid.” I usually dont care when tailgate accidents happen – its too late to stop them and they dont think. All they think of is that tailgating is fun.

Tailgating is a very stupid and deadly driving to do on the roads. If you are one of those tailgaters, make sure you think twice of driving in such manner and stop tailgating.

Drive safe, think of other drivers too on the roads.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: