Cara Ingkarus Hadist Sembahyang

Perintah sembahyang banyak terdapat di dalam Al-Quran Al-Karim, akan tetapi tata caranya secara detail tidak dijelaskan di dalamnya. Sebaliknya tataca sembahyang dijelaskan dan didukung pula oleh Al-Hadis An-Nabawi. Ini bukan berarti Al-Quran itu tidak lengkap isinya. Al-Hadis-lah yang berfungsi untuk menjelaskan kandungan Al-Quran secara terperinci.  Al-Hadis ini tidak lain dan tidak bukan adalah wahyu Allah Ta’ala yang disampaikan melalui lisan Baginda Rasulullah s.a.w.

Jadi yang menjadi pertanyaan kepada GAH (GOLONGAN ANTI HADIST) adalah, bagaimana cara mereka sembahyang apabila mereka sendiri tidak mengakui hadist-hadist yang menerangkan tata cara sembahyang secara detail? Mari kita lihat bagaimana tata-cara sembahyang mereka apabila hanya bersumber dari Al-Quran saja.
Di dalam Al-Quran disebutkan: “Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam “.

Dalam ayat di atas dinyatakan bahawa sembahyang itu hanyalah pada 3 waktu , yaitu: Pagi, Petang dan Permulaan Malam .

Kapankah waktu pagi itu dimulai? Dia tidak diperincikan di dalam Al-Quran Al-Karim. Mungkin GAH sembahyang ketika matahari baru naik. Kapankah petang itu bermula? Jam berapa ? Ini juga tidak juga dijelaskan di dalam Al-Quran. Mungkin GAH akan sembahyang  jam 3.00 petang (sebab saat itu adalah waktu istirahat bagi pekerja-pekerja). Ataupun mungkin juga GAH akan sembahyang di ujung petang mendekati tergelincirnya matahari . Terus permulaan malam itu jam berapa pula? Mungkin GAH akan menjawab : “ Permulaan malam itu saat matahari terbenamlah“ .

Itulah cara mereka sembahyang. Bagi mereka sembahyang 5 waktu ini tidak diajar di dalam Al-Quran. Lalu jadilah GAH dan orang-orang beragama SHINTO di Jepang sebagai  “ADIK-BERADIK “, sebab kedua-duanya melakukan sembahyang di masa matahari betul-betul terbit dan terbenam.

Bagaimana pula dengan tata cara sembahyang mereka? Mungkin mereka mengatakan, cukup dengan melakukan rukuk dan sujud saja, kerana kedua-dua itu sajalah yang disebut di dalam Al-Quran Al-Karim. Jadi bagaimana rupanya sembahyang GAH ini? Seperti apa rukuknya dan sujudnya?

Mungkin mereka rukuk dan sujud sebagai mana orang-orang Budha di Tibet melakukan sembahyang yaitu dengan cara menepuk tangan, kemudian rukuk lalu (tanpa iktidal) terus sujud dengan keadaan meniarap ke bumi. Mungkin GAH akan sujud dengan menghamparkan kedua-dua kakinya ke hadapan (yaitu dengan cara siku dirapatkan ke bumi). Lalu jadilah GAH dan Budha Tibet (Dalai Lama) sebagai kaum yang sama tata cara ibadahnya.

Akhirnya para pendukung GAH akan berkata: “Inilah sebenarnya cara sembahyang yang disebut di dalam Al-Quran“. Benarkah begitu? Allah menyifatkan golongan GAH ini sebagai: “Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangka-sangkaan semata-mata, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah) “ – Surah Al-An’am: Ayat 116.

GAH bukanlah golongan yang anti hadist palsu, tapi golongan yang anti Hadis-Hadis mutawatir yang sahih.  Dengan kata lain: “GAH tidak percaya langsung akan sabda-sabda Rasulullah s.a.w , sekalipun hadis-hadis yang sahih“. Kalau begitu GAH sama dengan golongan murtad. GAH, Qadiani, Batiniyah dan ajaran-ajaran sesat lainnya adalah sesat dan menyesatkan.

Terjemahan bebas dari:
http://al-ahkam.net/home/index.php?name=MDForum&file=viewtopic&t=8481&sid=d97dd20871149a8fbf03c97b0d52e13d

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: