Istinjak

Masalah bersuci dari hadas besar dan hadas kecil tidak menjadi masalah kalau kita tinggal di negara-negara yang mayoritas penduduknya adalah Muslim, karena disetiap toilet sudah tersedia air yang melimpah untuk bersuci. Akan tetapi bagi yang tinggal di negara non-Muslim seperti Australia misalnya, maka bersuci menimbulkan masalah tersendiri. Ini disebabkan hanya tissue toilet yang tersedia di toilet-toilet di Australia.


Kalau kita tanyakan kepada teman-teman kita di Australia tentang bagaimana cara mereka membersihkan diri dari hadas besar dan kecil kalau sedang di luar rumah, maka ada beberapa jawaban yang kita peroleh:

1. Menggunakan tissue toilet yang tersedia
2. Membawa botol mineral water kecil yang berisi air untuk digunakan di toilet umum
3. Menggunakan tissue toilet dan kemudian dibersihkan dengan air sedikit

Mana yang lebih tepat?

Sebenarnya pendapat yang mengatakan wajib membersihkan hadas besar atau kecil (istinjaa’) dengan air, tiada sumbernya sama sekali. Yang benar adalah penggunaan air itu lebih baik dari pada menggunakan benda-benda yang lain seperti batu. Dr al-Qardhawi berkata, zaman dulu ulama’ tidak menyukai istinja’ dgn kertas, kerana kertas adalah bahan penting untuk menulis. Namun sekarang, telah tersedia kertas kusus untuk toilet yang dikenali dengan “toilet roll”. Maka beliau berkata, sudah tentu kertas tisu ini lebih baik dari istijmar (istinja’) dgn menggunakan batu atau kerikil di zaman salaf. (Fiqh ThaHarah)

Kertas tissue termasuk benda yang bisa digunakan untuk membersihkan diri dari buang air kecil atau buang air besar. Dalam bahasa fiqihnya, menggunakan benda selain air yang digunakan untuk istija` disebut “istijmar” . Memang praktek aslinya dahulu di masa Rasulullah SAW lebih banyak menggunakan batu. Yaitu tiga buah batu yang berbeda yang digunakan untuk membersihkan bekas-bekas yang menempel saat buang air.

Tentang ketentuan apakah memang mutlak harus tiga batu atau tidak, para ulama sedikit berbeda pendapat. Pertama, kelompok Al-Hanafiyah dan Al-Malikiyah mengatakan bahwa jumlah tiga batu itu bukan kewajiban tetapi hanya mustahab (sunnah). Dan bila tidak sampai tiga kali sudah bersih maka sudah cukup. Sedangkan kelompok Asy-Syafi`iyyah dan Al-Hanabilah mengatakan wajib tiga kali dan harus suci / bersih. Bila tiga kali masih belum bersih, maka harus diteruskan menjadi empat, lima dan seterusnya.

Sedangkan selain batu, yang bisa digunakan adalah semua benda yang memang memenuhi ketentuan dan tidak keluar dari batas yang disebutkan :

  1. Benda itu bisa untuk membersihkan bekas najis.
  2. Benda itu tidak kasar seperti batu bata dan juga tidak licin seperti batu akik, karena tujuannya agar bisa menghilangkan najis.
  3. Benda itu bukan sesuatu yang bernilai atau terhormat seperti emas, perak atau permata. Juga termasuk tidak boleh menggunakan sutera atau bahan pakaian tertentu, karena tindakan itu merupakan pemborosan.
  4. Benda itu bukan sesuatu yang bisa mengotori seperti arang, abu, debu atau pasir.
  5. Benda itu tidak melukai manusia seperti potongan kaca beling, kawat, logam yang tajam, paku.
  6. Jumhur ulama mensyaratkan harus benda yang padat bukan benda cair. Namun ulama Al-Hanafiyah membolehkan dengan benda cair lainnya selain air seperti air mawar atau cuka.
  7. Benda itu harus suci, sehingga beristijmar dengan menggunakan tahi / kotoran binatang tidak diperkenankan.
  8. Tidak boleh juga menggunakan tulang, makanan atau roti, kerena merupakan penghinaan.

Bila mengacu kepada ketentuan para ulama, maka kertas tissue termasuk yang bisa digunakan untuk istijmar. Namun para ulama mengatakan bahwa sebaiknya selain batu atau benda yang memenuhi kriteria, gunakan juga air. Agar isitnja` itu menjadi sempurna dan bersih.

Sumber rujukan:

http://www.syariahonline.com/new_index.php/id/16/cn/29448
http://al-ahkam.net/home/index.php?name=MDForum&file=viewtopic&t=30915&sid=280d2d3bd4f640f3db56b26e7a01083a
http://al-ahkam.net/home/index.php?name=MDForum&file=viewtopic&t=28964&sid=280d2d3bd4f640f3db56b26e7a01083a

Tanya Jawab

http://al-ahkam.net/home/index.php?name=MDForum&file=viewtopic&t=30915&sid=280d2d3bd4f640f3db56b26e7a01083a

1. istinjaa’ dgn kertas tisu atau toilet roll. Dr al-Qardhawi berkata, zaman dulu ulama’ tidak menyukai istinja’ dgn kertas kerana kertas adalah bahan penting untuk tulisan. Namun sekarang, kertas khas utk tandas itu bukan lagi dikenali dgn kertas, tapi tisu tandas atau toilet roll. Maka kata beliau, sudah tentu kertas tisu ini lebih baik dari istijmar (istinja’) dgn menggunakan ketulan batu atau kerikil di zaman salaf. (Fiqh ThaHarah)

http://al-ahkam.net/home/index.php?name=MDForum&file=viewtopic&t=28964&sid=280d2d3bd4f640f3db56b26e7a01083a

Pendapat yg mengatakan wajib dgn air adalah tiada asalnya. yang benar, penggunaan air itu adalah lebih aula (lebih baik). Pengecualian diberikan kepada arab badui supaya menggunakan batu kerana itulah yg mudah bagi mereka dan air dapat digunakan utk keperluan minuman. Boleh pula menggunakan toilet roll (tisu tandas) yg disediakan dalam toilet2 moden hari ini. (fatawa alQardhawi, Fiqh Taharah)

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: